Kota Depok
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kota Depok merupakan kawasan strategis yang berbatasan langsung
dengan ibukota Republik Indonesia yaitu DKI Jakarta. Hal tersebut menjadi faktor
utama penyebab meningkatnya migrasi penduduk, para pekerja dan pencari kerja
di ibukota ke daerah ini untuk bermukim. Pada tahun 1999, tercatat jumlah
penduduk kurang dari 1 juta jiwa dan pada tahun 2005 meningkat hingga
1.374.522 jiwa. Pada tahun 2010 jumlah penduduk mencapai 1.736.565 jiwa
meliputi 51% laki-laki dan 49% perempuan, dengan kepadatan 10.101 jiwa/km2
.
Tingkat kepadatan penduduk Kota Depok tergolong tinggi dan tidak
tersebar merata. Pada tahun 2010, kepadatan penduduk dari tiap kecamatan di
Kota Depok (Beji, Bojongsari, Cilodong, Cimanggis, Cipayung, Cinere, Limo,
Pancoran Mas, Sawangan, Sukmajaya dan Tapos) berkisar antara 4 - 12 jiwa/km2
.
Konsentrasi penduduk tinggi berada di tiga kecamatan (Sukmajaya, Pancoran Mas
dan Beji) yang dilalui atau berbatasan dengan Jalan Margonda Raya. Kecamatan
Beji sebagai salah satunya merupakan pusat Kota Depok yang berbatasan
langsung dengan DKI Jakarta dan memiliki kepadatan penduduk tinggi yaitu
11.516 jiwa/km2
(Badan Pusat Statistik Kota Depok, 2010).
Pertambahan penduduk berdampak pada kebutuhan peningkatan lahan
terbangun seperti pemukiman, pendidikan, area perdagangan dan jasa. Hal ini
mengakibatkan peningkatan lahan terbangun di Kota Depok. Berdasarkan
proyeksi pemerintah, pada tahun 2010 luas kawasan terbangun sebesar 10.720,59
ha (53,28%) dan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 9.399,41 ha (46,72%). Jumlah
RTH tersebut diatas 30% seperti yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri dalam
Negeri nomor 1 tahun 2007 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan
Perkotaan, namun persebarannya tidak merata. Pada wilayah padat seperti
Kecamatan Beji, RTH telah banyak beralih fungsi menjadi kawasan terbangun
yang didominasi oleh perumahan (www.depok.go.id, 2010).
Tingginya peningkatan lahan terbangun dan penurunan RTH diperkirakan
berpengaruh terhadap iklim mikro Kota Depok khususnya pada wilayah padat
seperti di Kecamatan Beji. Hal ini dipengaruhi oleh tingginya penutupan lahan
2
terbangun yang menyebabkan peningkatan penyerapan radiasi dan suhu udara
menjadi lebih tinggi dan iklim tidak nyaman. Selain panas, faktor iklim iklim
mikro lainnya seperti kelembaban udara dan angin juga turut berpengaruh.
Kondisi termal yang tidak nyaman memerlukan langkah amelioratif agar
tercipta kenyamanan. Adapun pengertian ameliorasi dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001) adalah peningkatan nilai makna dari makna yang biasa atau
buruk menjadi makna yang baik. Indikator-indikator yang mempengaruhi
ketidaknyamanan termal tersebut dapat dirubah dan disiasati melalui perencanaan
RTH dengan mempertimbangkan faktor yang mempengaruhi iklim wilayah.
1.2 Tujuan
Tujuan umum adalah mengameliorasi iklim mikro Kota Depok
(Kecamatan Beji sebagai wilayah studi kasus) dengan merencanakan RTH untuk
menciptakan kenyamanan termal. Secara khusus, penelitian ini bertujuan:
1. Menganalisis dan mengidentifikasi kenyamanan termal di Kecamatan Beji.
2. Menentukan jumlah dan alokasi RTH pada tiap kawasan yang
membutuhkan RTH agar tercipta kenyamanan termal di Kecamatan Beji.
3. Merencanakan RTH dengan pemilihan vegetasi yang efektif dalam
menciptakan kenyamanan termal di Kecamtan Beji.
1.3 Manfaat
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Terwujudnya kondisi termal yang nyaman melalui keberadaan RTH yang
terencana.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Kota Depok dalam
melakukan perencanaan di Kecamatan Beji berkaitan tata ruang,
khususnya ruang terbangun dan kebutuhan RTH.
1.4 Kerangka Pikir
Letak Kota Depok yang strategis (diantara DKI Jakarta dan Kota Bogor)
mengakibatkan pembangunan tumbuh pesat seiring dengan meningkatnya
perkembangan jaringan transportasi yang tersinkronisasi secara regional dengan
3
kota lainnya. Pembangunan berlangsung tidak merata dimana kawasan terbangun
tinggi salah satunya adalah pusat Kota Depok yaitu Kecamatan Beji. Peningkatan
lahan terbangun diiringi dengan berkurangnya RTH di Kecamatan Beji
berdampak pada penurunan kenyamanan termal bagi penduduk. Karenanya
dilakukan penelitian untuk mengameliorasi iklim melalui perencanaan RTH.
Keungulan:
| |||||||||||||
Kota Depok ᮊᮧᮒ ᮓᮨᮕᮧᮊ᮪
Peta lokasi Kota Depok
ᮊᮧᮒ ᮓᮨᮕᮧᮊ᮪
|
|||||||||||||
Koordinat:
|
|||||||||||||
Hari jadi
|
27 April 1999
|
||||||||||||
Dasar hukum
|
Undang-undang Nomor 12
Tahun 1999
|
||||||||||||
LS 6° 22' 21 BT
106° 49' 39
|
|||||||||||||
Pemerintahan
|
|||||||||||||
• [[Daftar Wali Kota Kota Depok ᮊᮧᮒ ᮓᮨᮕᮧᮊ᮪|Wali
Kota]]
|
|||||||||||||
• [[Daftar Wakil Wali Kota Kota Depok ᮊᮧᮒ ᮓᮨᮕᮧᮊ᮪|Wakil
Wali Kota]]
|
|||||||||||||
Luas
|
|||||||||||||
• Total
|
200,29 km2(7,733 sq mi)
|
||||||||||||
Peringkat luas
|
|||||||||||||
Penduduk (2010)[1]
|
|||||||||||||
• Total
|
1.738.570
|
||||||||||||
• Peringkat
|
|||||||||||||
• Kepadatan
|
8.746/km2 (22.65/sq mi)
|
||||||||||||
• Peringkat
|
|||||||||||||
Demografi
|
|||||||||||||
Betawi (36,7%), Jawa(33,07%), Sunda(16,5%), Batak (2,91%), Minangkabau (2,66%)
|
|||||||||||||
• Agama
|
Islam, Kristen,
Katolik, Hindu, Buddha
|
||||||||||||
• Bahasa
|
|||||||||||||
WIB (UTC+7)
|
|||||||||||||
021
0251
|
|||||||||||||
11
|
|||||||||||||
63
|
|||||||||||||
Kota Depok adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak tepat di
selatan Jakarta, yakni antara Jakarta dan Bogor.
Dahulu Depok adalah
kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor, yang kemudian mendapat
status kota administratif pada
tahun 1982. Sejak 20 April 1999, Depok ditetapkan menjadi kotamadya (sekarang: kota)
yang terpisah dari Kabupaten Bogor. Kota Depok terdiri atas 11 kecamatan, yang dibagi menjadi 63 kelurahan.
Depok merupakan kota
penyangga Jakarta. Ketika menjadi kota administratif pada tahun 1982,
penduduknya hanya 240.000 jiwa, dan ketika menjadi kotamadya pada tahun 1999
penduduknya 1,2 juta jiwa. Universitas Indonesia berada
di wilayah Kota Depok.
Sejak bulan Juni 2012,
Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail telah
menetapkan program One Day No Car, yaitu program satu hari tanpa
mobil bagi pejabat pemerintahan Kotamadya Depok. Program ini dilakukan setiap
hari Selasa.[2]
Pada tahun 2015, Depok
merupakan satu dari 10 kota di Indonesia yang mendapatkan 'Penghargaan Laporan
Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah'.[3] Penghargaan ini diberikan
kepada pemerintah daerah yang mampu meningkatkan pendapatan
daerah. Setiap tahun, Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD)
"disetor" ke Kementerian Dalam Negeri sebagai indikator tingkat
keberhasilan suatu pemerintahan daerah dalam melaksanakan otonomi daerah.
Daftar isi
·
2Sejarah
·
7Kuliner
·
8Julukan
Nama Depok adalah nama
asli, bukan singkatan. Disebut asli karena pemberian nama Depok muncul dari
orang pribumi asli.
Jika dilihat pada masa
kerajaan Pajajaran (1030-1579 M), masyarakat menyebut wilayah Depok dengan
DEPROK (duduk santai ala melayu). Penamaan tersebut tidak terlepas dari
perjalanan Prabu Siliwangi yang singgah di kawasan Beji. Keindahan dan keasrian
Depok pada saat itu membuat Prabu Siliwangi men-deprok di kawasan yang tak jauh
dari Sungai Ciliwung.
Sementara itu,
pada masa Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa dan Pangeran Purba
seringgkali melakukan perjalanan ke Cirebon dan menggunakan jalur yang
melintasi kawasan Depok dan sempat menetap di Beji. Salah satu pengikut
Pangeran Purba yaitu Embah Raden Wujud memutuskan untuk tidak ikut melanjutkan
perjalanan ke Cirebon dan menetap dengan mendirikan PADEPOKAN (tempat
pendidikan dan pelatihan) untuk menyebarkan agama Islam.[4]
Padepokan yang
dibangun Embah Raden Wujud berkembang menjadi sebuah perkampungan, sehingga
Kesultanan Banten pada saat itu menyebut wilayah tersebut sebagai DEPOK atau
PADEPOKAN.
Padepokan sendiri bisa
diartikan sebagai tempat tinggal atau kampung halaman. Kata Padepokan pun bisa
diartikan sebagai tempat pendidikan, seperti pesantren.
Dalam laporan
ekspedisinya, Abraham van Riebeek (1730) menjelaskan bahwa kata Depok bukan
berasal dari bahasa asing. Tetapi lebih mungkin bahasa Sunda atau Jawa. Dalam
bahasa Sunda Depok berarti duduk.
Sejarah nama Depok
tidak terlepas dari sejarah penjajahan bangsa Belanda terhadap Indonesia.
Berdasarkan dokumen Bataviaasch Nieuwsblad (1929), seorang pejabat VOC yang
bernama Cornelis Chastelein telah membeli lahan di Mampang dan Depok lama yang
dipergunakan untuk perkebunan.
Dalam menamakan
wilayahnya, Cornelis Chastelein menggunakan
kata Depok yang sebenarnya sudah ada sejak masa Pajajaran. Namun Cornelis Chastelein menjabarkannya
menjadi De Eerste Protestante Organisatie van Christenen, yang
berarti 'Organisasi Kristen Protestan Pertama'.[5] Secara tertulis, bukti yang
menyebutkan adanya “depok” tercantum dalam naskah Belanda yang menyatakan
bahwa Cornelis Chastelein membeli
tanah di Depok dari seorang Residen di Cirebon
yang bernama Lucas Meur pada 18 Mei 1696. Kemudian nama depok tercatat
kembali dalam ekspedisi Inspektur Jendral
VOC, Abraham van Riebeeck pada
tahun 1704 dan 1709, ekspedisi ini merupakan survei wilayah ke pedalaman
Sungai Ciliwung.[6]
Sekitar tahun 1980 an,
masyarakat modern Depok menjabarkan Depok menjadi Daerah Elit Pemukiman Orang
Kaya. Banyak penjabaran terkait akronim kata Depok, namun jika melihat sejarah,
Depok merupakan kata asli masyarakat asli Depok yang bermakna Kampung Halaman
Berawal pada akhir
abad ke 17 seorang saudagar Belanda, eks VOC,
bernama Cornelis Chastelein (1657–1714)
membeli tanah di Depok seluas 12,44 km persegi (hanya 6,2% dari luas kota
Depok saat ini yang luasnya 200,29 km persegi) atau kurang dari 4 kali
luas kampus UI Depok.
Pusat titik KM 0 pada Depok jaman dahulu adalah Tugu Depok yang berlokasi di
halaman rumah sakit Harapan Depok. Dengan harga 700 ringgit, dan status tanah
itu adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Cornelis Chastelein menjadi
tuan tanah, yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas
dari pengaruh dan campur tangan dari luar. Daerah otonomi Chastelein ini dikenal
dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Pada zaman
kemerdekaan Depok ini menjadi sebuah kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah
Parung Kabupaten Bogor.
Depok bermula dari
sebuah Kecamatan yang berada di lingkungan Kewedanaan (Pembantu Bupati) wilayah
Parung Kabupaten Bogor, kemudian pada tahun 1976 perumahan mulai dibangun baik
oleh Perum Perumnas maupun pengembang yang kemudian diikuti dengan dibangunnya
kampus Universitas Indonesia (UI),
serta meningkatnya perdagangan dan Jasa yang semakin pesat sehingga diperlukan
kecepatan pelayanan.
Pada tahun 1981
Pemerintah membentuk Kota Administratif Depok berdasarkan Peraturan Pemerintah
Nomor 43 tahun 1981 yang peresmiannya pada tanggal 18 Maret 1982 oleh Menteri
dalam Negeri (H. Amir Machmud) yang terdiri dari 3 (tiga) Kecamatan dan 17
(tujuh belas) Desa, yaitu:
1.
Kecamatan Pancoran
Mas, terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu Desa Depok, Desa Depok Jaya, Desa
Pancoran Mas, Desa Mampang, Desa Rangkapan Jaya, Desa Rangkapan Jaya Baru.
2.
Kecamatan Beji,
terdiri dari 5 (lima) Desa, yaitu: Desa Beji, Desa Kemiri Muka, Desa Pondok
Cina, Desa Tanah Baru, Desa Kukusan.
3.
Kecamatan Sukmajaya,
terdiri dari 6 (enam) Desa, yaitu: Desa Mekarjaya, Desa Sukma Jaya, Desa
Sukamaju, Desa Cisalak, Desa Kalibaru, Desa Kalimulya.
Selama kurun waktu 17
tahun Kota Administratif Depok berkembang pesat baik dibidang Pemerintahan,
Pembangunan dan Kemasyarakatan. Khususnya bidang Pemerintahan semua Desa
berganti menjadi Kelurahan dan adanya pemekaran Kelurahan, sehingga pada
akhirnya Depok terdiri dari 3 (Kecamatan) dan 23 (dua puluh tiga) Kelurahan,
yaitu:
1.
Kecamatan Pancoran
Mas, terdiri dari 6 (enam) Kelurahan, yaitu: Kelurahan Depok,
Kelurahan Depok Jaya,
Kelurahan Pancoran
Mas, Kelurahan Rangkapan
Jaya, Kelurahan Rangkapan
Jaya Baru.
2.
Kecamatan Beji terdiri
dari (enam) Kelurahan, yaitu: Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur,
Kelurahan Pondok Cina, Kelurahan Kemirimuka,
Kelurahan Kukusan,
Kelurahan Tanah Baru.
3.
Kecamatan Sukmajaya,
terdiri dari 11 (sebelas) Kelurahan, yaitu: Kelurahan Sukmajaya,
Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Mekar Jaya, kelurahan
Abadijaya, Kelurahan Bakti Jaya,
Kelurahan Cisalak,
Kelurahan Kalibaru,
Kelurahan Kalimulya,
Kelurahan Cilodong,
Kelurahan Jatimulya,
Kelurahan Tirtajaya.
Dengan semakin
pesatnya perkembangan dan tuntutan aspirasi masyarakat yang semakin mendesak
agar Kota Administratif Depok diangkat menjadi Kotamadya dengan harapan
pelayanan menjadi maksimum. Di sisi lain Pemerintah Kabupaten Bogor
bersama–sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat memperhatikan perkembangan tesebut,
dan mengusulkannya kepada Pemerintah Pusat dan Dewan Perwakilan Rakyat.
Berdasarkan
Undang–Undang Nomor 15 Tahun 1999, tentang pembentukan Kotamadya Daerah Tingkat
II Depok yang ditetapkan pada tanggal 20 April 1999, dan diresmikan tanggal 27
April 1999 berbarengan dengan Pelantikan Penjabat Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II Depok yang dipercayakan kepada Drs. H. Badrul Kamal yang pada waktu
itu menjabat sebagai Walikota Kota Administratif Depok.
Momentum peresmian
Kotamadya Daerah Tingkat II Depok dan pelantikan penjabat Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II Depok dapat dijadikan suatu landasan yang bersejarah dan tepat untuk
dijadikan Hari Jadi Kota Depok.
Berdasarkan
Undang–Undang Nomor 15 Tahun 1999, wilayah Kota Depok meliputi wilayah
Administratif Kota Depok, terdiri dari 30 (tiga) kecamatan sebagaimana tersebut
di atas ditambah dengan sebagian wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II Bogor,
yaitu:
1.
Kecamatan Cimanggis,
yang terdiri dari 1 (satu) kelurahan dan 12 (dua belas) desa, yaitu: Kelurahan
Cilangkap, Desa Pasir Gunung Selatan, Desa Tugu, Desa Mekarsari, Desa Cisalak
Pasar, Desa Curug, Desa Hajarmukti, Desa Sukatani, Desa Sukamaju Baru, Desa
Cijajar, Desa Cimpaeun, Desa Leuwinanggung.
2.
Kecamatan Sawangan,
yang terdiri dari 14 (empat belas) desa, yaitu: Desa Sawangan, Desa Sawangan
Baru, Desa Cinangka, Desa Kedaung, Desa Serua, Desa Pondok Petir, Desa Curug,
Desa Bojong Sari, Desa Bojong Sari Baru, Desa Duren Seribu, Desa Duren Mekar,
Desa Pengasinan Desa Bedahan, Desa Pasir Putih.
3.
Kecamatan Limo yang
terdiri dari 8 (delapan) desa, yaitu: Desa Limo, Desa Meruyung, Desa Cinere,
Desa Gandul, Desa Pangkalan Jati, Desa Pangkalan Jati Baru, Desa Krukut, Desa
Grogol.
4.
Dan ditambah 5 (lima)
desa dari Kecamatan Bojong Gede, yaitu: Desa Cipayung, Desa Cipayung Jaya, Desa
Ratu Jaya, Desa Pondok Terong, Desa Pondok Jaya.
Pemekaran Kecamatan di
Kota Depok dari 6 (enam) menjadi 11 (sebelas) kecamatan merupakan implementasi
dari Perda Kota Depok Nomor 08 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan di Kota
Depok, yang diharapkan akan berdampak positif bagi masyarakat. Dengan bertambahnya
jumlah kecamatan tersebut, akan semakin mendekatkan pelayanan sehingga
memudahkan masyarakat dalam mengurus berbagai keperluannya yang membutuhkan
layanan aparatur pemerintah di kecamatan.
Di samping itu, dengan
pemekaran ini menjadikan setiap kecamatan hanya akan membawahi empat hingga
tujuh kelurahan saja, di mana sebelumnya 6 hingga 14 Kelurahan, diharapkan
camat dapat lebih intensif untuk berkoordinasi dengan para Lurah dan
aparaturnya sehingga dapat memperkokoh fungsinya dalam mensukseskan program-program
yang digulirkan Pemkot melalui berbagai OPD.
Adapun selengkapnya
nama-nama kecamatan dan kelurahan hasil pemekaran berdasarkan Peraturan Daerah
Nomor 08 Tahun 2007 yang disahkan oleh DPRD Kota Depok, sebagai berikut:
1.
Kecamatan
Pancoran Mas meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Pancoran Mas, Kelurahan Depok, Kelurahan Depok Jaya, dan
Kelurahan Mampang.
2.
Kecamatan
Beji meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Beji, Kelurahan Beji Timur, Kelurahan Kemiri Muka, Kelurahan
Pondok Cina, Kelurahan Kukusan, dan Kelurahan Tanah Baru. elurahan Rangkapan
Jaya, dan Kelurahan Rangkap Jaya Baru.
3.
Kecamatan
Cipayung meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Cipayung, Kelurahan Cipayung Jaya, Kelurahan Ratu Jaya,
Kelurahan Bojong Pondok Terong, dan Kelurahan Pondok Jaya.
4.
Kecamatan
Sukmajaya meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Sukmajaya, Kelurahan Mekarjaya, Kelurahan Baktijaya, Kelurahan
Abadijaya, Kelurahan Tirtajaya, dan Kelurahan Cisalak.
5.
Kecamatan
Cilodong meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Sukamaju, Kelurahan Cilodong, Kelurahan Kalibaru, Kelurahan
Kalimulya, dan Kelurahan Jatimulya.
6.
Kecamatan
Limo meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Limo, Kelurahan Meruyung, Kelurahan Grogol, dan Kelurahan
Krukut.
7.
Kecamatan
Cinere meliputi wilayah
kerja: Kerurahan Cinere, Kelurahan Gandul, Kelurahan Pangkal Jati Lama, dan
Kelurahan Pangkal Jati Baru.
8.
Kecamatan
Cimanggis meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Cisalak Pasar, Kelurahan Mekarsari, Kelurahan Tugu, Kelurahan
Pasir Gunung Selatan, Kelurahan Harjamukti, dan Kelurahan Curug.
9.
Kecamatan
Tapos meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Tapos, Kelurahan Leuwinanggung, Kelurahan Sukatani, Kelurahan
Sukamaju Baru, Kelurahan Jatijajar, Kelurahan Cilangkap, dan Kelurahan
Cimpaeun.
10.
Kecamatan
Sawangan meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Sawangan, Kelurahan Kedaung, Kelurahan Cinangka, Kelurahan
Sawangan Baru, Kelurahan Bedahan, Kelurahan Pengasinan, dan Kelurahan Pasir
Putih.
11.
Kecamatan
Bojongsari meliputi wilayah
kerja: Kelurahan Bojongsari, Kelurahan Bojongsari Baru, Kelurahan Serua,
Kelurahan Pondok Petir, Kelurahan Curug, Kelurahan Duren Mekar, dan Kelurahan
Duren Seribu.
Kota Depok selain
sebagai kota otonom yang berbatasan langsung dengan Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta juga merupakan wilayah penyangga Ibu
Kota Negara yang diarahkan untuk kota pemukiman, kota pendidikan, pusat
pelayanan perdagangan dan jasa, kota pariwisata, dan sebagai kota resapan air.
Bentuk, Arti dan
Lambang Kota Depok beserta penjelasannya :
·
Lambang Kota Depok
berbentuk Perisai bersisi 5 (lima) dengan warna dasar biru yang
di dalamnya terdapat gambar, warna dan bentuk serta di bagian atas terdapat
tulisan “KOTA DEPOK” dan di
bagian bawah terdapat tulisan “PARICARA DHARMA” dengan warna putih.[7]
·
Lambang Kota terdiri
dari 3 (tiga) bagian, dengan perincian sebagai berikut :
Bagian Depan terdiri
dari :
1.
Gambar Kujang dengan
posisi tegak;
2.
Kujang merupakan senjata/alat kerja
masyarakat Jawa Barat, Kujang dianggap sebagai manifestasi satria-satria
Pajajaran, yang identik dengan nilai-nilai kejuangan pahlawan Depok, yang memiliki sifat tak
gentar dalam menegakkan kebenaran dan rela berkorban;
3.
Pada gambar Kujang
terdapat 2(dua) buah Lubang, dengan lengkungan luar sebanyak 7 (tujuh) buah dan
tangkai (gagang) mempunyai lekukan 4 (empat) buah, yang dikelilingi rangkain
padi dan bunga kapas yang terdiri dari 9 (sembilan) butir padi dan 9 (sembilan)
kuntum bungan kapas yang mempunyai arti Kota Depok dilahirkan pada tanggal “27
April 1999”. Padi dan Kapas melambangkan cita-cita pemerintahan dan masyarakat
Kota Depok guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran;
4.
Di bawah gambar Kujang
terdapat gambar sebuah mata pena dan gambar sebuah buku terbuka, yang
melambangkan Depok sebagai Kota Pendidikan.
Bagian Tengah terdiri
dari :
1.
Gambar Pendopo merupakan simbol Pusat Pemerintahan
Kota Depok dalam melaksanakan tugas Pemerintahan, Pembangunan dan
Kemasyarakatan.
2.
Gambar Bangunan Gedung melambangkan Kota Depok sebagai
Kota Pemukiman serta sebagai pusat perdagangan dan jasa;
3.
Gambar tumpukan batu bata membentuk rangkaian kesatuan
yang menggambarkan dinamika masyarakat Kota Depok dalam melaksanakan
Pembangunan di segala bidang;
4.
Gambar gelombang air menggambarkan
aliran sungai yang mengalir di wilayah Kota Depok melambangkan kesuburan serta
menunjukkan Depok sebagai Kota Resapan Air;
Bagian Dasar terdiri
dari :
·
Bentuk Perisai yang
memiliki 5 (lima) sisi melambangkan tameng dan benteng, yang mampu mengayomi,
memberikan rasa aman dan tenram baik lahir maupun batin bagi
masyarakat Depok serta melambangkan ketahanan fisik dan mental masyarakat Depok dalam menghadapi
segala macam gangguan, halangan dan tantangan yang datang dari manapun juga
terhadap kehidupan Bangsa dan Negara Republik
Indonesia yang berdasarkan Pancasila.[8]
Dan ke 5 (lima) sisi
tersebut melambangkan pula fungsi/pesan yang diemban oleh Pemerintah Kota Depok
yaitu sebagai :
1.
Kota Pemukiman;
2.
Kota Pendidikan;
3.
Pusat Perdagangan dan
Jasa;
4.
Kota Wisata;
5.
Kota Resapan Air;
·
Tulisan “Kota Depok”
menunjukkan sebutan bagi Kota dan Pemerintah Kota Depok;
·
Tulisan Paricara
Dharma : berasal dari bahasa sansekerta yang terdiri dari kata
Paricara yang berarti Abdi, sedangkan Dharma adalah kebaikan, kebenaran dan keadilan jadi Paricara Dharma mengandung
makna bahwa Pemerintah Kota
Depok sebagai Abdi Masyarakat dan
Abdi Negara senantiasa mengutamakan kepada kebaikan, kebenaran dan keadilan. Warna dalam lambang Kota mempunyai
arti sebagai berikut :
3.
[[Putih] melambangkan
kesucian;
5.
Hitam melambangkan
keteguhan;
Depok sudah berubah, kalimat ini sepertinya sangat tepat bila
melihat kondisi Kota Depok sekarang ini yang maju pesat sejak
ditetapkannya Kota Administratif Depok
menjadi Kotamadya Depok berdasarkan undang-undang nomor 15 tahun 1999 tentang
pembentukan Kotamadya Depok dan Kotamadya Cilegon.
Perubahan yang terjadi di Kota Depok adalah proses panjang dari
serangkaian perencanaan strategis menuju Kota yang mandiri. Dimulai di era
Walikota Depok pertama yakni Badrul Kamal dan dilanjutkan di era
Walikota Depok Nur Mahmudi Ismail.
Berkat perjuangan kedua pemangku kebijakan tersebut yang didukung oleh jajaran
birokrasinya dan peran serta masyarakat yang guyup bersatu dengan pemimpinnya
untuk membangun. Maka Kota Depok diusianya yang relatif masih muda ini kini
telah menjelma menjadi Kota yang mandiri.
Begitu banyak perubahan yang sudah terjadi di Kota Depok. Geliat
pembangunan terlihat di mana-mana, ada Sekolah-sekolah dibangun, puskesmas
dibangun, jalan-jalan diperbaiki, bahkan Jalan Juanda yang menjadi kebanggaan
hingga kini dibangun pada tahun ke 3 usia pemerintahan Badrul Kamal, Untuk mengantisipasi pesatnya
pertumbuhan penduduk dan pesatnya ekonomi warga, pada tahun itu pula dicanangkan
pembangunan ruas jalan tol.[9]
Peruntukan ruas jalan tol inilah yang direncanakan dalam
perencanaan tata ruang wilayah Kota Depok. Untuk mewujudkan
rencana itu kemudian Panitia Khusus Rencana
Tata Ruang Wilayah Kota Depok atau
sering disingkat RTRW Kota Depok 2000–2010
dibentuk yang di ketuai oleh Agus Sutondo. Maka melalui RTRW Kota Depok 2000–2010, Akhirnya
perencanaan ruas Jalan Tol
Cinere-Jagorawi dan rencana ruas jalan tol Depok-Antasari dapat
terwujud yang nantinya akan menghubungkan wilayah Jakarta, Depok dan Bogor.[10]
Bahkan tingkat perekonomian Kota Depok tumbuh di atas rata-rata
nasional. Masyarakatnya pun hidup dalam alam toleransi dan mendapatkan
perlakuan yang sama dari para pemimpinnya yang berdiri di atas semua golongan.
Apalagi selama ini masyarakat Kota Depok yang majemuk telah berhasil
membuktikan secara regional maupun nasional sebagai masyarakat yang dewasa
bahkan perbedaan yang ada tidak pernah memicu konflik sosial sehingga
masyarakat Kota Depok bisa hidup berdampingan dan saling bahu membahu membangun
di segala aspek kehidupan.
Dari tahun 1982–1999, penyelenggaraan pemerintah Kota Administratif Depok
mengalami pergantian kepemimpinan sebagai berikut:[11]
·
Moch. Rukasah Suradimadja (1982–1984)
·
M.
I. Tamdjid (1984–1988)
·
Abdul
Wachyan (1988–1991)
·
Sofyan
Safari Hamim (1992–1996)
·
Badrul Kamal (1997–2005)
·
Nur Mahmudi Ismail (2006–2016)
·
Mohammad Idris (2016-sekarang)[12]
Belimbing terpilih
sebagai ikon kota Depok. Belimbing yang terkenal dari kota Depok adalah
belimbing dewa. Buahnya yang berwarna kuning-orange keemasan, mengandung
vitamin C dan A yang cukup tinggi. Rasa manisnya dipercaya sebagai obat herbal
penurun darah tinggi/hipertensi, kencing manis, nyeri lambung, dan lain-lain.
Belimbing sangat prospektif dikembangkan di kota Depok dan kini telah menjadi
buah unggulan kota Depok. Selain itu belimbing di daerah ini juga sudah dibuat
sebagai dodol bersama dengan jambu
merah.
·
Kota
Belimbing
Belimbing yang terkenal dari kota Depok adalah belimbing dewa.
Belimbing sangat Prospektif dikembangkan di kota Depok dan kini telah menjadi
buah unggulan kota Depok.
·
Kota
Petir
Kota Depok dijuluki Kota Petir, dikarenakan Kota Depok adalah
satu-satunya kota di dunia yang terdapat petir paling
berbahaya di dunia dan paling sering terjadi.
·
Kota
Layangan
Kota Depok di juluki Kota Layangan, karena di langit Kota Depok
di penuhi banyak layangan yang di terbangkan dari berbagai penjuru Kota Depok.
Kota Depok memiliki sekitar 2214 sekolah, 309743 siswa dan 20234
guru.[13]
Sumber:[14]
·
Bina Sarana
Informatika (BSI)
·
D01: Terminal Depok –
Depok Dalam PP
·
D02: Terminal Depok –
Depok II Tengah/Timur PP
·
D03: Terminal Depok –
Sawangan PP
·
D04: Terminal Depok –
Beji – Kukusan PP
·
D05: Terminal Depok –
Citayam – Bojong Gede PP
·
D06: Terminal Depok –
Pasar Cisalak PP
·
D07: Terminal Depok –
Rawa Denok PP
·
D07A: Terminal Depok –
Pitara – Citayam PP
·
D08: Terminal Depok –
BBM – Kalimulya PP
·
D09: Terminal Depok –
Studio Alam – Kalimulya PP
·
D10: Terminal Depok –
Parung Serab – Kalimulya PP
·
D11: Terminal Depok –
Kelapa Dua – Palsigunung PP
·
110: Terminal Depok –
Cinere PP
·
S16: Terminal Depok –
Pondok Labu PP
·
D15: Terminal Depok –
Simpangan Limo PP
·
M03: Terminal Depok –
Pasar Minggu
·
Kopaja 63: Terminal
Depok – Blok M
·
Patas AC 18: Terminal
Depok – Pulo Gadung via Bogor Raya – Ps. Rebo – UKI – Bypass – Cempaka Mas
·
Patas AC 80: Terminal
Depok – Tj. Priok
·
Patas AC 81: Terminal
Depok – Kalideres
·
Patas AC 84: Terminal
Depok – Pulo Gadung
·
Patas AC 134: Terminal
Depok – Ps. Senen
·
112: Terminal Depok –
Kampung Rambutan
·
Deborah mini: Terminal
Depok – Lebak Bulus
·
Deborah besar:
Terminal Depok – Kali Deres
·
P54 : Terminal
Depok – Grogol
·
D21: Sawangan –
Bedahan – Duren Seribu PP
·
D25: Sawangan – Curug
– Pondok Petir PP
·
D26: Sawangan –
Citayam PP
·
D27: Perum Komp.
Arco-Sawangan – Cinangka PP
·
114: Grogol – Ciputat
PP
·
102: Parung bingung –
Pondok labu
·
105: Terminal Depok –
Tanah Baru – Pondok labu
·
61: Cakra – Pasar
Minggu
·
M04: Depok Timur –
Pasar Minggu
·
Mekarjaya: Depok timur
– Kp.Rambutan
·
D17: Terminal jati
jajar – Tapos – Cibubur Junction via tol Cibubur – Leuwinanggung PP
·
35 : Cisalak –
RTM – Akses UI – Palsigunung PP
·
37 : Simpangan –
Kp.Rambutan
·
69 : Cisalak –
Pekapuran – Leuwinanggung PP
·
79 : Cisalak –
auri – Leuwinanggung
·
97 : Cisalak –
Cibubur
·
107: Cisalak -Gas Alam
– Leuwinanggung PP
·
P01: Cisalak –
Cileungsi
·
129: Mekarsari – Pasar
Minggu
·
T11: Mekarsari –
Cililitan
·
72 : Kalimulya –
Cibinong
·
62 : Leuwinaggung
– Cibinong
·
83 : Tanah baru –
Lenteng agung
·
D.18: Jl.Bakti
Abri-Gg.Nangka PP
·
Hiba Utama Bandara:
Depok – Bandara
Soekarno-Hatta
·
Medal Jaya:
Depok-Sukabumi
·
41: Cisalak-Cibinong
·
D.19 : Gg.Nangka
– Gg.Saminten
·
D.20 : Gg.Nangka
- Stasiun Pondok Cina
·
Depok - Jakarta Kota
PP
·
Depok - Bogor PP
Perkembangan Kota Depok dari aspek geografis, demografis maupun
sumber pendapatan begitu pesat, terutama di bidang administrator pembangunan.
Ada beberapa indikator yang dapat dipergunakan sebagai acuan
tentang pertumbuhan ekonomi di Kota Depok. Pertama, Indeks daya beli masyarakat
Depok semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sisi daya beli terjadi peningkatan
indeks daya beli dari 576,76 pada tahun 2006 menjadi
586,49 pada tahun 2009.
Kedua, capaian Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Kota Depok pada
tahun tahun 2009: 6,22%. Kontribusi paling dominan terhadap PDRB (Produk
Domestik Regional Bruto) dan LPE, dari subsektor perdagangan dan jasa.
Ketiga, terjadi peningkatan dari tahun ke tahun pada peranan
sektor tersier, yaitu dari 50,42% pada tahun 2006 menjadi 52,77% pada tahun
2009. Indikasi tersebut menandakan bahwa masyarakat Depok sudah dapat memenuhi
kebutuhan sektor primer maupun sekunder.
Laju ekonomi yang meningkat tersebut, telah menjadikan Depok
sebagai kota jasa dan perdagangan. Hal itu terlihat secara nyata dengan semakin
banyaknya layanan sektor jasa dan perdagangan yang bermunculan di Kota Depok,
seperti restauran, Mall, tempat-tempat usaha dan layanan jasa lainnya[15].
Pada tahun 2011, perekonomian Depok
dijadikan percontohan oleh Timor Leste dengan hadirnya Menteri
Ekonomi dan Pembanguna Timore Leste, Joe
Mendes Gonzales[16].
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2012 pertumbuhan
perekonomian Kota Depok mencapai 7,1%. Angka tersebut jauh melebihi pertumbuhan
ekonomi di Jawa Baratsebesar
6,2%[17]. Usaha jasa perorangan di Depok
turut mendorong laju pertumbuhan ekonomi sekitar 10,56 persen. Layanan jasa
yang menyokong perekonomian Depok antara lain dari jasa pencucian baju (laundry),
servis motor, salon dan guru privat. Usaha-usaha itu
berada di tengah-tengah pemukiman masyarakat[18].
·
D'Mall
·
TIP TOP
·
RS Bunda
·
RS
Bhayangkara Brimob

Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapusblognya bagus sebagai sejarah kota terbaik di jabar
BalasHapusblog nya bagus untuk mengingat sejarah
BalasHapusbermanfaat bangetbnih info yg kita dpt kalo kita baca
BalasHapusgk nyesel kalo baca
Blog ini sangat bagus dan daftar isinya juga bagus sekali
BalasHapussangat bagus
BalasHapusblog ini sangat bagus untuk memperluas pengetahuan kita
BalasHapussangat bagus daftar dan isi blognya
BalasHapusblog ini saya membaca dari awal hingga akhir
BalasHapussangat bagus untuk di baca dan memperluas ilmu pengetahuan tentang kota depok
BalasHapusblog ini sangat bagus
BalasHapusberguna banget dan bermanfaat sekali blog ini
BalasHapussangat bagus sekali
BalasHapussangat membantu pengetahuan aku dan bagus sekali untuk dibaca
BalasHapusSangat jelas atas sejarah kota depok , membuat kita lebih mudah paham setelah membaca blog ini
BalasHapusJelas dan lengkap isi blog nya :)
BalasHapusTetap jadi diri sendiri n semangat GBU
BalasHapusBagus sekali,sebagai anak muda kita harus terus mingingat sejarah "jas merah" jangan sekali-kali meninggalkan sejarah..cuma kalaj bisa di perjelas lagi tentang kota Depok pada saat pemerintahan pada jaman dulu
BalasHapusTapi ini sangat bagus dan sangt membantu orang" yang belum tau tentang kota Depok
Semangat and god bless you 😊😇